Kisah Inspiratif Penjual Keliling Difabel Asal Tegal
By: Date: 19/01/2021 Categories: Berita Inspirasi Tags:

Kisah Inspiratif Penjual Keliling Difabel Asal Tegal

Kisah Inspiratif Penjual Keliling Difabel Asal Tegal

Sebagai seorang penyandang disabilitas atau difabel, Slamet Nugroho, tak dambakan cuma berpangku tangan dan meratapi kekurangan fisiknya.
Pasang Bola
Sebaliknya, warga Desa Balamoa, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal itu justru memiliki stimulan untuk menjalani hidup tanpa tergantung terhadap belas kasih orang lain.

‎Berbekal kursi roda, Slamet berjualan makanan ringan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kursi roda manual itu sudah dia modifikasi sehingga sanggup digunakan untuk membawa barang dagangan dan juga melindunginya dari hujan dan terik matahari.

‎Setiap hari kursi roda Slamet merayap di antara lantas lalang sepeda motor dan mobil yang saling beradu cepat. Selain mesti waspada sehingga tidak sampai tertabrak kendaraan, Slamet juga mesti waspada jikalau menemui lubang jalan.

Rabu siang (6/1/2021)‎ itu, Slamet tengah menyusuri Jalan Raya Tegal-Purwokerto, Banjaran, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Makanan ringan dan minuman yang dijualnya kelihatan masih banyak yang belum terjual. “Baru laku sedikit,” ujar Slamet kepada Suara.com.

Slamet sudah empat tahun berjualan makanan dan minuman ringan di atas kursi roda. Biasanya pria 32 tahun itu berjualan terasa pukul 13.00 WIB dan baru pulang kala azan Magrib berkumandang.

“Kalau belum banyak yang laku kadang jualan sampai jam 9 malam. Selain di Adiwerna, juga di Slawi,” ujarnya.

Penghasilan yang didapat Slamet dari berjualan tak menentu. Rata-rata Rp40 ribu sampai Rp50 ribu sekali berjualan.

“‎Lagi pandemi seperti sekarang ada pengaruhnya. Paling kerap sanggup Rp30 ribu, kadang Rp20 ribu, kadang juga tidak sanggup uang serupa sekali,” tuturnya.

Tak cuma lebih dari satu kali pulang tanpa membawa uang, Slamet juga dulu tertabrak sepeda motor kala tengah berjualan. “Pernah sekali ditabrak motor sampai kursi roda aku roboh, untungnya aku tidak apa-apa,” ucapnya.

Meski demikian, Slamet tetap stimulan melakoni usahanya itu.‎ Dia tak dambakan hidup bersama dengan mengandalkan rasa kasihan orang lain.

“Saya tidak senang tetap berpangku tangan. Ingin mengupayakan sendiri karena orang kan tidak kemungkinan akan ngasih konsisten menerus,” ujarnya.

Prinsip untuk tidak senang dikasihani karena suasana fisiknya amat dipegang Slamet. Ketika ada orang yang memberinya uang, dia tak senang menerimanya.

“‎Kalau lagi jualan banyak yang ngasih uang tetapi tidak senang beli karena kemungkinan kasihan melihat suasana saya. Saya tolak karena aku tidak senang dikasihani. Saya tidak jualan kasihan. Saya maunya orang beli,” ucapnya.

Keinginan untuk hidup dari keringatnya sendiri juga yang membuat Slamet menentukan tinggal terpisah bersama dengan orang tuanya. Sehari-hari dia tinggal di sebuah tempat kos di Desa Tembok Luwung, Kecamatan Adiwerna.

‎”Orang tua mulanya tidak membolehkan jikalau aku jualan seperti ini, tetapi aku dambakan mandiri. Tidak senang minta orang tua terus,” ucap bungsu dari lima bersaudara itu.

Slamet sudah menyandang disabilitas sejak usia satu tahun. Kedua kakinya lumpuh usai berobat ke seorang mantri. Hal ini membuatnya mesti memanfaatkan kursi roda dikala beraktivitas.

“Awalnya sakit konsisten periksa ke mantri dan disuntik. Setelah itu katanya aku kena polio. Saya tidak sanggup berdiri jikalau tidak pegangan tembok dan tidak sanggup jalan,” ujarnya.

Dengan keterbatasannya itu, Slamet bertekad untuk konsisten berjualan demi sanggup melakukan perbaikan taraf hidupnya. Selama ke dua tangannya masih sanggup menjalankan ‎kursi roda di atas jalan, dia dambakan konsisten pelihara mimpinya.

“Cita-cita aku ‎ingin memiliki toko sendiri suatu kala nanti,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *