Menginspirasi, Kisah Konglomerat Tajir Melintir, Pernah Cuci Piring Sampai Dibentak Pelanggan
By: Date: 16/02/2021 Categories: Berita Inspirasi Tags:

Menginspirasi, Kisah Konglomerat Tajir Melintir, Pernah Cuci Piring Sampai Dibentak Pelanggan

Menginspirasi, Kisah Konglomerat Tajir Melintir, Pernah Cuci Piring Sampai Dibentak Pelanggan

Mantan Menteri Perdagangan Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Gita Wirjawan dikenal luas sebagai seorang entrepreneur sukses. Di balik keberhasilannya, Gita menyimpan kisah unik.
Pasang Bola
Tak pernah tersedia yang tahu, Gita rupanya pernah banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri. Di era lampau, entrepreneur kelahiran Jakarta ini pernah menjadi tukang cuci piring dan seorang pianis.

Tak seberapa, ia juga seringkali meraih cerita pahit sementara dibentak pelanggan dan pemilik restoran.

Seperti apa ceritanya? Simak ulasan selengkapnya tersebut ini.

Dompet Pas-Pasan
Lulus dari University of Texas dan Baylor University bukan lah suatu perihal yang cukup mudah bagi Gita. Pria berusia 55 tahun ini memiliki masa-masa getir.

Meski dilahirkan di di dalam keluarga yang cukup berada, namun Gita justru hidup pas-pasan di luar negeri sementara itu.

“Banyak yang enggak tahu, Pak Gita itu pengalamannya sebelum akan itu banyak gitu kan. Pernah cuci piring, pernah main piano di sana-sini, dan segala macam. Ceritakan dong pak, sementara pengalaman-pengalaman itu,” bertanya Putri Tanjung di dalam kanal YouTube CXO Media.

“Saya ke Amerika itu, I’ve come from the middle class family dari Jakarta. Tapi pas-pasan banget sementara hingga di sana,” terangnya.

Jadi Pianis dan Cuci Piring
Untuk menghidupi dirinya sendiri sementara itu, papa dari tiga orang anak ini kemudian perlu bekerja keras. Ia memutar otak untuk bisa menghasilkan duwit sendiri.

Gita kemudian memanfaatkan kemampuannya yang bisa bermain piano untuk meraih penghasilan. Tak cuma itu, ia juga sempat menjadi tukang pencuci piring hingga pelayan di sebuah restoran.

“Jadi, langkah untuk aku enggak pulang ke Indonesia ya itu. Jadinya ya sementara itu terdapatnya ya cuma cuci piring, ngepel, bersihkan toilet, main piano. Nah, kebetulan aku memiliki bakat lah main piano. Ya sudah,” ungkapnya.

Banting Tulang untuk Kuliah
Ia memastikan untuk mengambil 40 jam kerja di dalam sementara satu minggu. Meski bekerja, ia tak kemudian melupakan kewajibannya untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia senantiasa mengambil 5 hingga 7 kelas di dalam satu semester.

“Itu seminggu kerja bisa saja 40 jam, sambil mengambil kelas 5 hingga 7 kelas per semester,” jelasnya.

Pelajaran Berharga
Menjalani formalitas sebagai mahasiswa dan pekerja paruh sementara ternyata mendatangkan banyak pelajaran hidup bagi Gita, Ia studi banyak tentang karakteristik pelanggan yang membangun kepribadiannya sebagai entrepreneur sukses.

“Berapa tahun ya aku menjadi waitress. Itu aku terlampau studi tentang pembeli service. Karena terkecuali orang itu kembali dilayani, banyak yang complain perumpamaan gara-gara piringnya enggak hangat, banyak yang complain ikannya tidak cukup matang atau enggak sesuai dengan pesanannya. Itu kita studi tentang feedback[…] Itu bisa diaplikasikan ke semua vertikal usaha terkecuali menurut saya,” terangnya.

“Dan melatih kesabaran ya, pak,” jadi Putri.

“Oh iya, sering dimaki-maki juga kan terkecuali salah atau apa,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *